iniSO.co – Hubungan perdagangan dan industri antara Indonesia, khususnya Jawa Timur, dengan Timor Leste terus menunjukkan tren positif. Hal ini ditandai dengan kunjungan Asisten Atase Industri dan Perdagangan Timor Leste, Ricardo de Araujo, ke Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur di Surabaya, Rabu (25/2/2026).
Kunjungan tersebut bertujuan mempererat kerja sama perdagangan, industri, dan investasi antara Timor Leste dan Jawa Timur sekaligus menjajaki peluang kolaborasi baru yang lebih luas.
Ricardo mengatakan pertemuan dengan Kadin Jatim merupakan langkah untuk meninjau sekaligus memperkuat hubungan yang telah terjalin selama ini.
“Tujuan kita ke Kadin Jatim itu untuk memperhatikan hubungan kerja sama industri dan perdagangan Timor Leste dengan Kadin Jatim sejauh ini,” ujarnya.
Menurutnya, ke depan kedua pihak terbuka menjalin kerja sama di berbagai sektor sesuai peluang yang tersedia. Timor Leste sebagai negara yang relatif baru merdeka masih berada dalam tahap pembangunan sehingga membutuhkan dukungan di banyak bidang, khususnya pengembangan industri kecil dan menengah.
“Timor Leste adalah negara yang baru merdeka, kita masih dalam proses pembangunan,” tuturnya.
Ricardo menilai Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam mendukung kebutuhan tersebut. Selama ini, Surabaya menjadi salah satu daerah utama yang mengekspor berbagai produk ke Timor Leste.
“Surabaya itu salah satu daerah yang paling banyak mengirim bahan-bahan dan produk ke Timor Leste,” ungkapnya.
Selain bertemu dengan Kadin Jatim, delegasi Timor Leste juga mengunjungi sejumlah perusahaan di Jawa Timur yang selama ini menjadi eksportir ke negara tersebut, di antaranya PT Akuasi, Bogasari, Indofood, serta kawasan Pelabuhan Tanjung Perak untuk pengumpulan data ekspor.
“Kami ingin melihat langsung proses pembuatan produk-produk yang dikirim ke Timor Leste,” jelas Ricardo.
Fokus Penguatan UMKM dan Investasi Baru
Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu fokus utama kerja sama. Saat ini jumlah UMKM di Timor Leste masih terbatas sehingga membutuhkan pendampingan dari mitra luar negeri, termasuk Indonesia.
“Sekarang kita masih jalan pelan-pelan, makanya kita sangat perlu pendampingan UMKM,” ujarnya.
Jenis industri kecil yang dibutuhkan antara lain kerajinan tenun, makanan ringan, hingga produksi perabot rumah tangga sederhana seperti kursi dan meja. Selain itu, peluang investasi besar juga terbuka di sektor pengelolaan sampah dan daur ulang yang hingga kini belum berkembang di Timor Leste.
“Untuk daur ulang itu belum ada. Sampah masih dikumpulkan di satu tempat saja,” ungkapnya.
Ricardo berharap perusahaan-perusahaan Indonesia, khususnya Jawa Timur, dapat berinvestasi di sektor tersebut karena dinilai sangat penting bagi pembangunan negaranya.
Selain itu, kebutuhan suku cadang dan layanan perawatan alat berat juga cukup mendesak. Banyak pengusaha Timor Leste membeli alat berat dari Indonesia namun mengalami kendala layanan purna jual.
“Setelah alat berat operasi satu sampai dua tahun, sering bermasalah karena tidak ada suku cadang di sana,” jelasnya.
Produk utama yang selama ini dikirim dari Indonesia ke Timor Leste meliputi bahan bangunan, makanan, obat-obatan, kosmetik, hingga alat berat. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,5 juta jiwa, potensi pasar Timor Leste dinilai masih sangat terbuka.
Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan dan Promosi Luar Negeri, Tommy Kayhatu, menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Ia menegaskan bahwa Jawa Timur merupakan mitra dagang strategis bagi Timor Leste karena kedekatan geografis dan banyaknya produk yang telah diekspor ke negara tersebut.
“Jatim itu menjadi mitra dagang strategis bagi Timor Leste karena secara geografis sangat dekat. Banyak produk kita yang selama ini telah diekspor ke sana,” kata Tommy.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, nilai ekspor Jawa Timur ke Timor Leste pada 2021 mencapai US$206,61 juta dengan impor hanya US$0,56 juta sehingga menghasilkan surplus US$206,05 juta. Tren positif berlanjut pada 2022 dengan ekspor US$231,66 juta dan surplus US$229,01 juta.
Pada 2023 ekspor meningkat menjadi US$243,18 juta dengan surplus US$237,68 juta. Tahun 2024 bahkan mencatat surplus tertinggi sebesar US$254,84 juta dari nilai ekspor US$256,99 juta. Sementara pada 2025 hingga Oktober, ekspor tercatat US$241,56 juta dengan surplus US$238,29 juta.
“Secara keseluruhan hubungan dagang antara Jawa Timur dan Timor Leste selama periode 2021–2025 menunjukkan prospek yang sangat baik. Surplus neraca perdagangan yang konsisten menjadi indikator kuat bahwa Timor Leste merupakan mitra dagang strategis bagi Jawa Timur,” pungkasnya.
Melalui pertemuan ini, kedua pihak berharap kerja sama perdagangan, industri, dan investasi dapat semakin konkret dan berkelanjutan. Penguatan kolaborasi tidak hanya di sektor ekspor-impor, tetapi juga pengembangan UMKM dan investasi baru yang saling menguntungkan.

