iniSO.co – Sosok inspiratif datang dari dunia UMKM di Kabupaten Tuban. Asiyah (35), Ketua UMKM Ikan Asap Sidomakmur di Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel, berhasil mengembangkan usaha lele asap hingga menembus pasar luar daerah berkat pembinaan dari Pertamina Hulu Energi Tuban East Java.
Perjalanan usaha Asiyah tidak instan. Sejak 2015, ia bersama suaminya memulai usaha ikan asap sederhana di depan rumah. Produk tersebut kemudian dipasarkan di Pasar Soko dengan skala terbatas.
Titik balik terjadi saat Asiyah mengikuti program pelatihan upskilling perajin lele asap yang difasilitasi PHE TEJ. Dari program tersebut, ia mendapatkan pendampingan intensif yang membuka wawasan baru dalam pengelolaan usaha.
“Setelah mengenal Pertamina, saya mendapat banyak pengalaman baru dari pendampingan yang diberikan,” ujar Asiyah, Minggu (19/4/2026).
Tak hanya pelatihan, Asiyah juga menerima bantuan alat produksi berupa mesin vakum dan tusuk khusus pengasapan. Kehadiran teknologi vakum menjadi perubahan signifikan dalam usahanya.
Jika sebelumnya lele asap hanya bertahan dua hari, kini produk tersebut memiliki daya simpan lebih lama sehingga layak dipasarkan ke luar kota.
“Dulu tidak tahu ada alat vakum. Sekarang ikan lele bisa tahan lama dan bisa dijadikan oleh-oleh,” jelasnya.
Perkembangan ini berdampak pada meningkatnya permintaan pasar. Produk lele asap Asiyah kini tak hanya dijual di pasar tradisional, tetapi juga menjadi incaran wisatawan sebagai oleh-oleh khas Tuban.
Dalam proses produksi, Asiyah memulai pengasapan setiap pukul 16.00 WIB. Setiap hari, ia mampu mengolah 25 hingga 30 kilogram lele, tergantung kondisi bahan baku. Proses dimulai dari pembersihan ikan, penusukan menggunakan alat khusus, hingga pengasapan perlahan tanpa terkena api langsung agar matang merata.
Untuk harga, produk lele asap dijual Rp10 ribu per tiga ekor, atau sekitar Rp2.500 per ekor tergantung ukuran.
Sementara itu, Community Development Officer PHE TEJ, Aris Diantoro, menjelaskan bahwa program pembinaan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pelatihan produksi, pengemasan, hingga pemasaran. Selain itu, perusahaan juga menyediakan alat pendukung usaha sesuai kebutuhan pelaku UMKM.
“Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha dan kelancaran produksi. Bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” ujarnya.
Selain sektor ekonomi, PHE TEJ juga menjalankan berbagai program sosial lainnya, seperti beasiswa pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan usaha konveksi dan digital di desa sekitar.
Kisah Asiyah menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat mampu mendorong UMKM naik kelas, sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal di Kabupaten Tuban.

