iniSO.co – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Ngawi mengeluhkan lonjakan harga sekaligus kelangkaan minyak goreng yang mulai mengganggu keberlangsungan usaha mereka. Kondisi ini dirasakan para perajin hingga pedagang kuliner yang bergantung pada minyak goreng sebagai bahan utama produksi.
Dampak paling terasa dialami perajin di sentra industri keripik tempe Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi. Kenaikan harga bahan baku memaksa pelaku usaha memutar strategi agar produksi tetap berjalan di tengah tekanan biaya.
Harga minyak goreng di Ngawi tercatat melonjak dari Rp320 ribu menjadi Rp370 ribu per kardus berisi 18 kilogram. Kenaikan ini terjadi sejak awal Maret 2026 dan diperparah dengan pasokan yang mulai sulit diperoleh di pasaran.
Selain minyak goreng, pelaku UMKM keripik tempe Ngawi juga menghadapi kenaikan harga kedelai dan plastik kemasan yang turut menekan biaya produksi.
Salah satu perajin keripik tempe, Endita, mengaku terpaksa menaikkan harga jual produknya sebesar Rp1.000 per kemasan demi menjaga usaha tetap bertahan. Dalam sehari, ia membutuhkan hingga 10 kardus minyak goreng untuk memenuhi kebutuhan produksi.
“Semua bahan naik, terutama minyak goreng. Kami harus pintar menyiasati, akhirnya harga jual naik seribu rupiah per kemasan, sementara ukuran tetap,” ujar Endita, Kamis (23/4/2026).
Kenaikan harga minyak goreng tidak hanya memukul industri rumahan, tetapi juga dirasakan pedagang makanan di kawasan street food Alun-Alun Ngawi.
Para pedagang mengaku kesulitan memperoleh minyak goreng curah. Kalaupun tersedia, harganya jauh lebih mahal dibanding biasanya, sehingga berdampak langsung terhadap harga jual makanan.
Salah satu pedagang, Iik Sri Sunarti, mengatakan kenaikan harga bahan baku membuat pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual sebesar Rp1.000 per porsi.
“Sekarang cari minyak curah saja sulit sekali, bahkan sering tidak ada di pasaran. Terpaksa kami naikkan harga jual seribu rupiah,” ungkapnya.
Menurut pelaku usaha, kondisi ini mulai mengurangi margin keuntungan dan membuat operasional usaha semakin berat, terutama bagi UMKM kecil yang bergantung pada modal harian.
Pelaku UMKM Ngawi berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan minyak goreng dan menstabilkan harga di pasaran.
Mereka menilai minyak goreng merupakan komponen vital dalam operasional usaha, khususnya sektor kuliner dan industri olahan pangan seperti keripik tempe yang menjadi salah satu produk unggulan daerah.
Jika kondisi ini terus berlanjut, pelaku usaha khawatir produksi menurun, harga produk semakin naik, dan daya beli masyarakat terdampak.
Para perajin berharap ada intervensi pemerintah, baik melalui pengawasan distribusi maupun jaminan pasokan, agar usaha kecil tetap bertahan di tengah tekanan biaya produksi.

