iniSO.co – Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop Umdag) Kabupaten Banyuwangi mengapresiasi peran Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi dalam memperluas pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui kolaborasi lintas agama. Program tersebut dinilai membantu pemerintah menjangkau pelaku UMKM hingga tingkat desa.
Apresiasi itu disampaikan Kepala Bidang Usaha Mikro Diskop Umdag Banyuwangi, Cici, saat menerima peserta kegiatan Youth Interfaith Branding Ecosociopreneur di Pusat Layanan Kemasan Banyuwangi, Selasa (2/6/2026).
Menurut Cici, Banyuwangi saat ini memiliki sekitar 207 ribu UMKM yang tersebar di berbagai wilayah. Besarnya jumlah tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam memberikan pendampingan secara merata kepada seluruh pelaku usaha.
“Teman-teman Eco Bhinneka Muhammadiyah menjadi kepanjangan tangan pemerintah untuk menyampaikan informasi dan pendampingan kepada masyarakat desa. Dengan keterlibatan pemuda lintas agama dan perangkat desa, pengembangan UMKM bisa menjangkau lebih banyak masyarakat,” kata Cici.
Ia menilai kolaborasi yang dibangun Eco Bhinneka Muhammadiyah tidak hanya memperkuat sektor ekonomi masyarakat, tetapi juga menumbuhkan semangat gotong royong lintas agama dan generasi dalam mendukung pengembangan usaha lokal.
Dalam kegiatan tersebut, peserta yang terdiri dari pemuda lintas agama, organisasi perempuan, pemerintah desa, dan pelaku UMKM mendapatkan pembekalan mengenai legalitas usaha, branding produk, desain kemasan, hingga strategi pemasaran digital.
Cici juga memperkenalkan berbagai layanan gratis yang tersedia di Pusat Layanan Kemasan Banyuwangi. Fasilitas tersebut menyediakan pendampingan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, PIRT, desain logo, fotografi produk, hingga pengembangan kemasan.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memiliki program Si Kedip Wangi (Siaga Keliling Dampingi UMKM Banyuwangi) yang memberikan layanan pengurusan legalitas usaha secara langsung ke desa-desa.
“Melalui Si Kedip Wangi, masyarakat dapat mengurus legalitas usaha seperti NIB, PIRT, dan sertifikasi halal secara gratis tanpa harus datang ke kantor,” ujarnya.
Diskop Umdag Banyuwangi juga menjalankan program PRABUWANGI (Packaging dan Branding UMKM Banyuwangi) yang fokus membantu pelaku usaha memperkuat identitas produk melalui desain kemasan dan strategi branding profesional.
Sementara itu, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Banyuwangi, Zahrotul Janah, mengatakan kolaborasi dengan Pusat Layanan Kemasan menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas UMKM desa, terutama dalam aspek legalitas, kemasan, dan pemasaran.
Menurutnya, banyak produk lokal memiliki kualitas baik namun belum berkembang optimal karena terkendala perizinan dan branding produk.
“Kami ingin mempertemukan potensi desa dengan akses pengetahuan, legalitas, dan pasar yang lebih luas. Karena itu kami mengajak pemuda lintas agama, pemerintah desa, organisasi perempuan, dan pelaku UMKM untuk belajar langsung di Pusat Layanan Kemasan Banyuwangi,” kata Zahrotul.
Ia menjelaskan kegiatan Youth Interfaith Branding Ecosociopreneur merupakan bagian dari program inkubasi ecosociopreneur yang dikembangkan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Desa Temurejo. Program tersebut mendorong pengembangan produk olahan buah naga sebagai komoditas unggulan lokal sekaligus membangun ekosistem ekonomi yang inklusif melalui kolaborasi lintas iman.
Diskop Umdag Banyuwangi juga menilai produk selai buah naga yang dikembangkan peserta memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Pemerintah berharap sinergi antara Eco Bhinneka Muhammadiyah, pemerintah daerah, pemuda lintas agama, dan pelaku UMKM dapat melahirkan lebih banyak produk unggulan desa yang memiliki legalitas lengkap, kemasan menarik, serta mampu menembus pasar digital dan jaringan pemasaran yang lebih luas.

