iniSO.co – Kabupaten Lamongan kembali menorehkan prestasi nasional dengan meraih penghargaan Economic Growth kategori Top Regency in Agro-Maritime Food Hub dalam ajang National Governance Award 2026. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas keberhasilan pertumbuhan ekonomi Lamongan yang bertumpu pada potensi agro-maritim dan pembangunan inklusif berbasis kerakyatan.
Penghargaan tersebut diraih setelah melalui seleksi ketat yang melibatkan Kementerian Dalam Negeri, Ombudsman RI, dan kalangan akademisi. Penilaian difokuskan pada efektivitas kebijakan pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menegaskan penghargaan itu menjadi bukti keberhasilan pembangunan ekonomi yang tidak hanya mengejar angka, tetapi menghadirkan manfaat nyata bagi warga.
“Penghargaan ini menjadi bukti bahwa pembangunan berbasis potensi lokal yang terintegrasi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif. Fokus kami bukan hanya angka, tetapi bagaimana masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” ujar Yuhronur.
Ia menjelaskan sektor agro-maritim Lamongan menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai 30,18 persen, sementara industri pengolahan menyumbang 12,84 persen terhadap struktur ekonomi daerah.
Tak hanya itu, produksi padi Lamongan pada 2025 tercatat mencapai 1,33 juta ton atau tertinggi di Jawa Timur. Capaian ini memperkuat posisi Lamongan sebagai lumbung pangan sekaligus pusat pengembangan agro-maritim nasional.
Keberhasilan tersebut berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 124,97, mencerminkan naiknya daya beli petani. Sementara tingkat pengangguran terbuka berhasil ditekan hingga 4,29 persen dan pertumbuhan ekonomi Lamongan mencapai 5,40 persen, melampaui rata-rata provinsi maupun nasional.
“Ini menunjukkan kebijakan yang kami jalankan tidak hanya mendorong produksi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal,” tambahnya.
Selain bertumpu pada sektor agro-maritim, Pemkab Lamongan juga memperkuat ekonomi kerakyatan melalui program UMKM Naik Kelas dan Young Entrepreneur Success. Program tersebut berhasil menciptakan 1.945 lapangan kerja baru serta melahirkan ratusan wirausaha muda melalui program Megpreneur.
Sebanyak 42 produk UMKM Lamongan kini telah masuk pasar modern, sementara 49 produk berhasil menembus pasar ekspor. Kondisi ini menunjukkan daya saing UMKM Lamongan semakin kuat di tingkat nasional maupun global.
“Sebanyak 42 produk UMKM sudah masuk pasar modern dan 49 produk berhasil menembus ekspor. Ini bukti pelaku usaha lokal mampu bersaing jika didukung kebijakan yang tepat,” jelas Yuhronur.
Dari sisi infrastruktur, pemerintah daerah terus memperkuat konektivitas sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. Kehadiran Trans Jatim, Jalur Lingkar Utara, hingga program Jalan Mantap dan Alus Lamongan (JAMULA) dinilai mempercepat distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
“Pembangunan infrastruktur bukan hanya soal jalan, tapi bagaimana membuka akses ekonomi baru dan mempercepat pertumbuhan wilayah,” tegasnya.
Potensi pesisir sepanjang 47 kilometer juga dimaksimalkan melalui konsep blue economy. Dukungan kawasan industri, pelabuhan, serta konektivitas dengan Bandara Juanda dan jaringan tol memperkuat posisi Lamongan dalam rantai pasok regional.
Di sektor perdagangan, nilai ekspor Lamongan meningkat dari Rp20 triliun pada 2024 menjadi Rp22 triliun pada 2025, sementara impor berhasil ditekan. Kinerja ini memperlihatkan produk lokal Lamongan semakin kompetitif di pasar global.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat hilirisasi dan integrasi sektor agro-maritim agar nilai tambah ekonomi semakin besar dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” pungkas Yuhronur.
Penghargaan Top Regency in Agro-Maritime Food Hub menegaskan Lamongan sebagai daerah dengan model pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal yang mampu menciptakan pertumbuhan inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat.

