Oleh: Gatot Sundoro
iniSO.co – Setiap akhir tahun, umumnya dijadikan momentum untuk berbenah diri. Evaluasi, instrospeksi dan resolusi; Disusun sedemikian rupa guna meraih pencapaian terbaik pada tahun berikutnya.
Namun bagi Islam, dengan konsepnya muhasabah, tidaklah menunggu masa setahun. Upaya evaluasi, instrospeksi dilakukan setiap hari.
Dalam Al-Qur’an, surat Al Hasyr, ayat 18 ALLOH berfirman:” Wahai orang orang yang beriman! Bertakwalah kepada ALLOH (dengan mengerjakan perintah-NYA dan meninggalkan larangan-NYA), dan hendaklah setiap diri melihat dan memperhatikan apa yang telah dilakukan (dari amal amalnya) untuk hari esok (hari akhirat), dan (sekali lagi diingatkan) bertakwalah kepada ALLOH, sesungguhnya ALLOH Maha teliti akan segala yang engkau kerjakan.”
Setiap insan tentu ingin kembali pulang ke tempat yang nyaman nan indah saat hari pembalasan kelak (Surga). Tak ada yang ingin kembali pulang ke tempat yang penuh derita dan penyiksaan (Neraka).
Keharusan muhasabah, dan jujur dengan kondisi diri adalah bekal utama menuju Surga; sebaliknya seseorang yang jarang bahkan tidak mau muhasabah, niscaya akan berakhir dengan kesusahan, rugi dan akan semakin panjang berdirinya pada lapangan kiamat.”
Seorang mukmin yang memiliki pandangan kalbu yang jernih akan menyadari bahwa hidupnya senantiasa diawasi oleh ALLOH SWT. Saat hizab nanti, setiap tingkah lakunya meskipun aksinya hanya seberat atom akan dipersoalkan. Dan patut disadari tanpa muhasabah, maka tidak akan selamat dari bahaya siksaan yang pedih.
Dalam Al-Qur’an surat Al Anbiya ayat 47, ALLOH SWT berfirman:” Dan KAMI akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. Sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti KAMI datangkan (pahala atau dosanya). Dan cukuplah KAMI sebagai perhitungan.”
Dari ayat tersebut diatas, ada tiga poin yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Keadilan ALLOH mutlak di hari kiamat.
ALLOH SWT menunjukkan bahwa timbangan-NYA sangat adil dan tidak mungkin meleset. Tidak ada yang dizalimi, tidak ada pahala yang dikurangi dan tidak ada dosa yang ditambah tambah.
2. Sekecil apapun tidak akan terlewati.
Kiasan dari ALLOH SWT ini adalah hitungan-NYA untuk sesuatu yang sangat kecil dan ringan.
Maksudnya amal baik sekecil apapun akan dibalas, dan amal buruk sekecil apapun akan diperhitungkan. Tidak ada yang hilang.
3. ALLOH SWT sendiri yang menghizab, tidak butuh bantuan.
Perhitungan dari ALLOH SWT amatlah cepat, sangat teliti, dan tidak membutuhkan auditor. Tidak ada dalih ‘lupa dicatat’.
Ini adalah ayat penguat bagi orang yang merasa amal baiknya tidak berarti, dan peringatan bagi yang meremehkan dosa kecil.
Umar bin Khattab pernah suatu hari ia terlambat mengikuti sholat dengan berjamaah. Ia menebusnya dengan menyedekahkan tanahnya seharga dua ribu dirham.
Kebiasaan Umar bin Khattab ini, juga dilakukan oleh anaknya; Ibnu Umar bin Khattab. Jika ia terlewati sebuah kewajiban pada siang hari, maka ia mengisi malamnya penuh dengan ibadah.
Saat Ibnu Umar tertinggal sholat wajib berjamaah, ia menghukum dirinya, ia membebaskan dua orang budaknya.
Ada tiga cara agar diri kita terbiasa untuk menjadi pribadi yang gemar bermuhasabah, yakni:
1. Menganalisa diri sebelum berbicara dan berbuat dalam berperilaku sehari hari. Tanyakan pada diri sendiri,” Apakah ALLOH Ridha dengan ucapan dan tingkah laku kita, selamat atau tidak di akhirat nanti?”
2. Renungkan apa yang telah kita lakukan dengan usia, harta dan ilmu kita.
3. Berhias diri dengan menjaga akhlak yang mulia

