SURON.CO, Surabaya – Universitas Surabaya (Ubaya) mendampingi UMKM Jamu Gunung Anyar dalam diversifikasi produk jamu Kudu-Laos untuk melestarikan warisan budaya Nusantara.
UMKM milik pasangan Lamiran dan Sumiatun yang berlokasi di Wisma Indah 2, Blok K12/31 Gunung Anyar Tambak, Surabaya, telah bergerak di bidang usaha jamu sejak 2018.
Di tahun 2019, ketika Covid-19 melanda Indonesia, masyarakat sekitar Gunung Anyar Tambak mulai mempercayai bahwa jamu dan minuman fungsional yang dibuat oleh Lamiran dan Sumiatun dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh.
Salah satu produk unggulannya, jamu Kudu-Laos, menjadi favorit karena diyakini efektif dalam pencegahan Covid-19. Keampuhan jamu ini didukung oleh penelitian Thoo dan kawan-kawan pada tahun 2010, yang membuktikan bahwa mengkudu (Morinda citrifolia) dan lengkuas (Alpinia galanga) kaya akan polifenol dan flavonoid, yang berfungsi sebagai antioksidan.
Namun, di era pasca Covid-19, Lamiran dan Sumiatun menghadapi tantangan baru dalam penjualan. Waktu simpan jamu yang relatif pendek membuat mereka kesulitan memenuhi permintaan yang lebih luas. Selain itu, pemasaran yang kurang menarik bagi generasi muda menjadi hambatan besar, mengingat kebanyakan anak muda enggan mengonsumsi jamu tradisional.
Melalui Program Pendampingan dan Pengembangan UMKM (P3U), yang diketuai oleh Vendra Setiawan dari Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya (Ubaya) bekerja sama dengan Lamiran dan Sumiatun untuk mengembangkan produk jamu Kudu-Laos. Program ini fokus pada diversifikasi produk dengan menciptakan minuman serbuk Kudu-Laos, yang berpotensi memperpanjang masa simpan produk.
Selain itu, desain produk dan label juga disempurnakan untuk memberikan informasi yang lebih informatif dan menarik, sehingga dapat meningkatkan daya tarik produk di kalangan konsumen. Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya membantu UMKM Lamiran bertahan dan berkembang di era pasca Covid-19, tetapi juga melestarikan warisan budaya Nusantara melalui inovasi jamu tradisional.(*)

