Minke.id – PT PLN (Persero) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui program binaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Salah satu UMKM binaan yang menjadi sorotan adalah Pulas Katumbiri (Puka), sebuah UMKM berbasis di Bandung yang melibatkan para difabel dan berhasil meraih omzet hingga Rp 800 juta per tahun.
Dessy Nur Anisa Rahma, penggagas Puka, menjelaskan bahwa omzet UMKM tersebut awalnya hanya sekitar Rp 100 juta per tahun. Namun, setelah menjadi mitra binaan PLN Peduli, omzet mereka meningkat signifikan. “Sebelumnya itu setahun kami hanya mendapat paling besar Rp 100 juta. Tapi sekarang alhamdulillah sudah mencapai Rp 800 juta,” ujar Dessy saat ditemui di gerainya pada Minggu (19/1/2025).
Didirikan sejak 2015, Puka menawarkan berbagai produk kerajinan tangan yang dibuat oleh difabel dengan beragam latar belakang, seperti down syndrome, tunadaksa, autisme, tuli, dan cerebral palsy (lumpuh otak). “Mereka bisa untuk kegiatan crafting, yaitu meronce, makram, sulam, embroidery, dan lain sebagainya. Jadi kami berproduksi sesuai dengan kemampuan mereka,” ungkap Dessy.
Saat ini, Puka tidak hanya memberdayakan difabel di Bandung, tetapi juga di kota-kota lain seperti Surabaya, Banyuwangi, Sukabumi, dan Tasikmalaya. Total, terdapat 30 difabel yang terlibat dalam proses kreatif, baik langsung di gerai maupun dari rumah.
“Teman-teman difabel ini bekerja sama dengan SLB di Bandung, Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, dan beberapa komunitas seperti POTADS (komunitas down syndrome) dan komunitas tuli di Bandung,” tambah Dessy.
Produk Puka tidak hanya dipasarkan di Bandung tetapi juga di berbagai kota di Indonesia, seperti Pekanbaru, Jambi, Solo, dan Jakarta. Bahkan, Puka telah memperluas pasarnya hingga ke luar negeri dengan konsinyasi di dua toko di Singapura dan Malaysia.
Untuk mendukung keberlanjutan usaha, Puka menerapkan dua skema pengupahan. Difabel yang bekerja dari rumah dibayar berdasarkan jumlah produk yang dibuat, sementara mereka yang bekerja di gerai mendapatkan upah harian.
Krisantus Hendro Setyawan, Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN Unit Induk Distribusi Jawa Barat, menjelaskan bahwa dukungan PLN bertujuan untuk mendorong difabel agar lebih percaya diri, berdaya guna, dan mandiri. Selain memberikan pendampingan, PLN juga menyediakan pelatihan pemasaran dan desain kepada para difabel yang baru bergabung.
“Harapannya, dengan pendampingan ini, hasil karya teman-teman difabel dapat semakin meningkat, baik dari segi kualitas maupun jumlah produksi,” ujar Krisantus.
Saat ini, Puka memiliki 37 tenaga kerja, terdiri dari 7 tenaga administrasi dan 30 tenaga difabel. Sebelumnya, Puka hanya memiliki 10 tenaga kerja, menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam skala usaha.
Dengan kolaborasi ini, PLN dan Puka membuktikan bahwa pemberdayaan difabel dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian dan kehidupan sosial. Puka menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara perusahaan, komunitas, dan individu mampu menciptakan peluang dan meningkatkan kesejahteraan bersama.

