Minke.id – Pemerintah Desa Sukoanyar, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto terus menunjukkan komitmennya dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Salah satu langkah nyata yang tengah disiapkan adalah reaktivasi UMKM pengolahan makanan, yang sempat vakum dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Desa Sukoanyar, Priyanto, mengungkapkan bahwa usaha mikro ini sebelumnya mampu menyerap antara 20 hingga 30 tenaga kerja lokal, dan diharapkan bisa kembali memberikan kontribusi besar terhadap pengurangan pengangguran dan peningkatan pendapatan warga.
“Yang selama ini terlibat antara 20 sampai 30 orang. Jadi bisa menampung banyak pekerja, apalagi jika permintaan terus meningkat,” jelasnya, Minggu (2/6).
Langkah reaktivasi ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Pada akhir Mei 2025 lalu, Wakil Bupati Mojokerto Muhammad Rizal Octavian bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Zaqqi melakukan kunjungan langsung ke lokasi industri rumahan tersebut.
Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau kesiapan produksi, termasuk memastikan bahwa instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sudah sesuai dengan standar lingkungan. Pasalnya, industri ini bergerak di bidang pengolahan makanan berbahan dasar usus ayam, yang memerlukan proses pembersihan dan perebusan intensif, sehingga aspek sanitasi dan pengolahan limbah menjadi perhatian penting.
“Karena produknya dari bahan olahan usus yang dibersihkan dan direbus. Jadi kemarin ditinjau juga terkait pengolahan limbah UMKM-nya,” tambah Priyanto.
Pengoperasian kembali UMKM ini dijadwalkan setelah Hari Raya Idul Adha, dan diharapkan akan menjadi stimulus baru bagi pertumbuhan ekonomi desa. Reaktivasi ini juga sejalan dengan visi Desa Sukoanyar untuk menjadikan UMKM sebagai salah satu pilar utama perekonomian lokal.
“Semoga dengan adanya langkah ini, pabrik usus Desa Sukoanyar dapat kembali beroperasi dengan maksimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” harapnya.
Dengan berbagai dukungan yang ada, Desa Sukoanyar siap membangkitkan kembali sektor UMKM, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat desa. Langkah ini sekaligus menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah desa dan daerah dapat memperkuat ketahanan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

