iniSO.co – QRISMA Fest 2026 bertajuk Gema Kadjoetangan resmi dibuka di kawasan Kayutangan Heritage, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong penggunaan sistem pembayaran nontunai berbasis QRIS sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi digital di Kota Malang.
Festival QRIS dan UMKM volume pertama ini merupakan hasil kolaborasi antara Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Malang, Pemerintah Kota Malang, Otoritas Jasa Keuangan, industri perbankan, pelaku UMKM, komunitas pariwisata, hingga masyarakat.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa QRISMA Fest menjadi jembatan transformasi dari transaksi tradisional menuju sistem pembayaran modern. Menurutnya, konsep QRISMA yang merupakan singkatan dari QRIS, UMKM, dan masyarakat mencerminkan integrasi antara budaya, ekonomi, dan teknologi.
“QRISMA ini menjadi bagian dari tradisi menuju transaksi modern. Kota Malang memiliki kekayaan heritage dan budaya yang menjadi daya tarik, dan kini didukung dengan transaksi nontunai,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan multiplier effect bagi perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM di kawasan Kayutangan Heritage.
Dalam rangkaian kegiatan ini, sejumlah produk kuliner dijual dengan harga Rp112 sebagai bagian dari peringatan HUT ke-112 Kota Malang. Selain itu, Pemerintah Kota Malang juga meluncurkan fitur tap QRIS serta sistem pembayaran QRIS untuk tiket masuk kawasan wisata tersebut.
Sementara itu, Kepala KPw BI Malang, Indra Kuspriyadi, menegaskan bahwa digitalisasi transaksi menjadi kebutuhan yang harus terus didorong untuk mendukung ekonomi berkelanjutan.
Berdasarkan data, penggunaan QRIS di wilayah kerja BI Malang yang meliputi tujuh kabupaten/kota di Jawa Timur mengalami pertumbuhan signifikan. Pada Maret 2026, transaksi QRIS meningkat 182 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total nilai transaksi Rp2,13 triliun, Kota Malang menyumbang Rp1,27 triliun, dengan volume mencapai 28 juta transaksi, di mana 20 juta transaksi berasal dari Kota Malang.
Indra menambahkan, penggunaan QRIS ke depan tidak hanya difokuskan pada sektor perdagangan, tetapi juga diperluas ke sektor pariwisata dan layanan publik.
“Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegasnya.
Sebagai salah satu pusat wisata dan ekonomi, kawasan Kayutangan Heritage mencatat kunjungan hingga 3.000–5.000 orang saat libur Natal dan Tahun Baru 2025. Kehadiran QRISMA Fest diharapkan semakin mempermudah transaksi, meningkatkan inklusi keuangan, serta memperkuat posisi Kota Malang sebagai kota kreatif berbasis digital

