SURON.CO, Surabaya – Warga miskin yang mengikuti program Padat Karya Simokerto Cullinary berkurang setengahnya, dari 14 menjadi 7. Itu setelah tiga bulan program berjalan dan dievaluasi.
Camat Simokerto Noervita Amin mengatakan, ketujuhnya memilih untuk berjualan berkeliling ketimbang menetap di stan food court Lantai 3 International Trade Centre (ITC) Mega Grosir Surabaya.
“Mereka minta keliling dengan rombong. Sudah kami sampaikan usulan bantuan ke Baznas Surabaya dan Bangga Surabaya,” ungkapnya, Jumat (5/1).
Vita, sapaan akrab Noervita Amin menuturkan, dalam usaha bidang kuliner memang butuh ketelatenan. Utamanya soal promosi dan pemasaran. Ia menyebut, para pedagang tersebut belum terbiasa melakukan kedua hal tersebut. Mereka masih terpaku untuk menunggu pembeli. “Tidak sabar kalau di mal. Memang harus kreatif, tidak harus menunggu,” imbuhnya.
Menurutnya, ketujuh pedagang yang berjualan keliling nanti tetap mendapat pengawasan dan pendampingan. Pihaknya melakukan koordinasi dengan kelurahan setempat. Konkretnya, ada laporan setiap dua pekan sekali. Tim kesejahteraan rakyat dari masing-masing kelurahan akan memberikan laporan secara berkala.
Salah satu pelaku program Padat Karya Simokerto Culinary Nur Azizah menuturkan bahwa memang butuh adaptasi. Ia yang sebelumnya pelaku UMKM kuliner keliling kini masih menyesuaikan beberapa hal. “Dulu ikut jualan di acara CFD, acara bazar,” ujar dia.
Salah satu hal yang mulai ia biasakan ialah proaktif mencari pelanggan. Hasilnya, warga Simolawang tersebut mengaku sudah berhasil menggaet sejumlah pelanggan.
Saat ini, ia bersama seorang rekannya menjajajakan pecel Suroboyo dan minuman jus buah. “Kalau weekend menunya ganti nasi jagung, biar orang ndak bosan. Ada juga kue kering tapi sekarang lagi kosong habis diborong,” pungkasnya. (*)

