Minke.id – Dalam rangka menyambut Hari UMKM Nasional 12 Agustus, Unilever Indonesia bersama Alunjiva Indonesia menggelar rangkaian pelatihan kewirausahaan offline untuk 75 UMKM perempuan dan individu disabilitas. Kegiatan ini menjadi kelanjutan dari program “SheAblepreneur” yang resmi diluncurkan pada Juni 2025 lalu.
Setelah seluruh peserta mengikuti pelatihan online pada Juli, hari ini edisi perdana pelatihan offline diikuti oleh 25 peserta asal Jabodetabek. Kegiatan serupa akan berlanjut di Bandung dan Yogyakarta, masing-masing diikuti 25 peserta.
Didukung Komnas Disabilitas, pelatihan ini memfokuskan pada peningkatan kapasitas dan kapabilitas pelaku UMKM perempuan dan disabilitas, demi terwujudnya ekosistem UMKM yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Peringatan Hari UMKM Nasional setiap 12 Agustus menjadi momen untuk mengapresiasi puluhan juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
Lebih dari itu, momentum ini mengajak seluruh pihak untuk membangun ekosistem UMKM yang inklusif, di mana setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, tanpa terkecuali.
Kristy Nelwan, Head of Communication sekaligus Chair of Equity, Diversity & Inclusion (ED&I) Board Unilever Indonesia, menjelaskan, keterlibatan Unilever di program SheAblepreneur dilatarbelakangi misi bersama untuk menciptakan lingkungan bisnis yang adil, beragam, dan inklusif.
“Program SheAblepreneur memberdayakan UMKM perempuan, penyandang disabilitas, dan perempuan penyandang disabilitas—kelompok yang kerap menghadapi hambatan ganda dalam mengembangkan usaha. Hal ini sejalan dengan tiga pilar ED&I kami, yaitu keadilan gender, keadilan untuk individu disabilitas, serta penghapusan diskriminasi dan stigma,” ungkap Kristy, Selasa (12/8/2025).
Dalam pelatihan offline ini, karyawan Unilever terjun langsung menjadi trainer. Tim brand membawakan materi branding, pemasaran, dan strategi digital, sementara tim HR memaparkan manajemen tim dan teknik rekrutmen.
Menurut Kristy, pelatihan ini tidak hanya memperkaya wawasan bisnis peserta, tetapi juga menepis stigma yang sering dialamatkan kepada pelaku UMKM perempuan dan disabilitas.
Nicky Clara, Founder Alunjiva Indonesia, menambahkan, banyak kelompok marjinal—khususnya perempuan dan individu disabilitas—enggan memulai bisnis karena terjebak stereotip: perempuan dianggap kurang fokus, sementara individu disabilitas dianggap kurang produktif.
“Ketika keberanian itu muncul, tantangan berikutnya adalah sulitnya mengembangkan usaha karena keterbatasan akses mentor, jejaring, atau modal. Kolaborasi dengan Unilever Indonesia dan Komnas Disabilitas ini dirancang untuk mencetak UMKM yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berdampak sosial,” jelas Nicky.
Sejak diluncurkan Juni lalu, program SheAblepreneur menjaring 182 pendaftar dari tiga kota pelaksanaan. Melalui seleksi ketat, terpilih 75 peserta yang memenuhi syarat untuk mendapat pendampingan.
Pada Juli, mereka telah mengikuti pelatihan online dengan empat modul utama:
- Dasar pengembangan bisnis & Business Model Canvas (BMC)
- Pemanfaatan media digital dan sosial untuk bisnis
- Literasi keuangan
- Pengenalan Artificial Intelligence (AI)
Dari tahap online, ditemukan tantangan umum yang dihadapi pelaku UMKM, mulai dari manajemen tim yang belum terstruktur, komunikasi internal yang kurang optimal, hingga strategi pemasaran yang belum efektif.
Pelatihan offline tahap lanjutan mengadopsi metode design thinking, yang membantu peserta menyusun strategi manajemen tim, pembagian peran, dan komunikasi internal yang lebih efektif.
Peserta juga dibekali keterampilan menyusun strategi pemasaran kreatif yang sesuai karakteristik usaha mereka, serta membuat action plan jangka pendek dan panjang untuk penguatan tim dan pemasaran.
Setelah sesi Jabodetabek, pelatihan akan berlanjut di Bandung dan Yogyakarta. Selain itu, selama Agustus, peserta perempuan disabilitas akan mendapat kesempatan magang satu bulan di UMKM terpilih guna memperluas pengalaman bisnis.
Program SheAblepreneur menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan UMKM inklusif bukan hanya wacana, tetapi aksi nyata yang melibatkan sektor swasta, organisasi masyarakat, dan lembaga pemerintah.
Dengan dukungan pelatihan, pendampingan, dan kesempatan magang, UMKM perempuan dan disabilitas diharapkan dapat menjadi pelaku usaha yang berdaya, mandiri, dan siap bersaing di pasar lokal maupun global

