iniSO.co – Di tengah geliat ekonomi Surabaya, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus berupaya bertahan sekaligus berkembang. Namun di balik semangat tersebut, masih terdapat berbagai tantangan krusial, mulai dari keterbatasan modal, lemahnya personal branding, hingga belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital.
Di kawasan Tenggilis Mejoyo, geliat UMKM terlihat dari beragam produk kuliner rumahan yang dihasilkan warga. Mulai dari ayam krispi, siomay, kebab, tahu bakso, hingga minuman tradisional seperti sinom, menjadi bukti kreativitas masyarakat dalam menggerakkan roda ekonomi lokal.
Namun, potensi tersebut kerap terkendala persoalan klasik, yakni keterbatasan permodalan. Ketua UMKM Tenggilis Mejoyo, Pinto Yuliwati, mengungkapkan banyak pelaku usaha sebenarnya telah memiliki produk berkualitas, tetapi belum mampu memenuhi pesanan dalam jumlah besar.
“Banyak UMKM sudah punya produk bagus, tapi saat mendapat pesanan besar, misalnya ratusan porsi, mereka belum tentu bisa langsung memenuhi. Karena itu biasanya harus menerapkan sistem uang muka atau DP 50 persen,” ujarnya, Selasa (14/4).
Menurut Pinto, skema tersebut tidak hanya untuk mengatasi keterbatasan modal, tetapi juga sebagai langkah antisipasi terhadap risiko penipuan. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa akses pembiayaan masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam pengembangan UMKM.
Selain persoalan modal, tantangan juga muncul dari sisi pemasaran dan adaptasi teknologi. Pendamping UMKM, Dika Maharu, menilai masih banyak pelaku usaha yang belum terhubung dengan ekosistem digital.
Padahal, di era saat ini, kehadiran digital menjadi kebutuhan utama untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkuat branding usaha.
“Masih banyak UMKM yang belum terhubung dengan ekosistem digital. Padahal, ini penting untuk memperkuat branding sekaligus meningkatkan penjualan,” katanya.
Dika menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta untuk mendorong UMKM naik kelas. Kolaborasi dinilai menjadi kunci dalam membuka akses pelatihan, pendampingan, hingga peluang pasar yang lebih luas.
Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan strategi pemasaran, baik secara offline maupun online. Keikutsertaan dalam bazar dan pameran dinilai tetap relevan, namun harus diperkuat dengan kehadiran di platform digital agar daya saing semakin meningkat.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pelaku UMKM di Surabaya terus beradaptasi dan mencari solusi agar tetap bertahan. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak diharapkan mampu mengubah hambatan menjadi peluang nyata.
Dengan kolaborasi yang kuat, upaya mendorong UMKM naik kelas tidak lagi sekadar wacana, melainkan langkah konkret menuju kemandirian ekonomi yang inklusif.

