iniSO.co – Ketua Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi mengatakan perusahaan besar dapat berperan sebagai off taker bagi produk-produk UMKM.
“Perusahaan besar bisa menjadi off taker bagi UMKM sehingga produk mereka terserap dalam kegiatan industri,” kata Erna saat kunjungan kerja di Gresik, Kamis.
Menurutnya, industri besar dapat menjadikan produk UMKM sebagai bahan baku produksi. Dengan demikian, tercipta perputaran ekonomi yang lebih merata sekaligus memperkuat rantai pasok domestik.
Erna menambahkan, dalam pelaksanaan produksi industri, pelaku UMKM seharusnya memiliki porsi kontribusi yang cukup besar dalam mendukung operasional perusahaan.
Salah satu contoh kolaborasi tersebut dapat dilihat pada PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk yang berlokasi di Gresik. Perusahaan makanan dan minuman tersebut dinilai telah aktif melibatkan UMKM, petani, hingga peternak lokal dalam penyediaan bahan baku.
Berdasarkan hasil kunjungan Komisi VII DPR RI, perusahaan tersebut menggandeng petani untuk memenuhi kebutuhan bahan baku seperti kacang tanah serta bekerja sama dengan peternak dalam penyediaan susu.
Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik, Reghi Perdana menegaskan bahwa industri memiliki kewajiban untuk bermitra, membina, dan memberdayakan UMKM agar tercipta pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
“Garudafood memiliki program yang baik dalam mendukung keterlibatan UMKM, petani, serta peternak mulai dari pemenuhan garam, kacang, hingga susu sebagai bahan baku produk makanan dan minuman,” ujar Reghi.
Sementara itu, Direktur Supply Chain and Procurement Garudafood, Johanes Setiddharma menjelaskan pihaknya telah membina petani untuk menanam komoditas kacang tanah di lahan seluas 200 hektare guna memenuhi kebutuhan bahan baku sesuai standar kualitas perusahaan.
Selain itu, perusahaan juga melakukan pembinaan terhadap peternak sapi perah agar mampu menghasilkan susu berkualitas dengan rata-rata produksi sekitar tiga liter per ekor per hari.
Program pembinaan tersebut telah berjalan di Tulungagung dan saat ini sedang dikembangkan di Boyolali.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan bahan baku, terutama di tengah tantangan industri makanan dan minuman yang terdampak fluktuasi nilai tukar akibat situasi geopolitik global.
Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI, Bambang Haryo Soekartono mengatakan fluktuasi mata uang membuat sejumlah industri makanan dan minuman kesulitan mendapatkan bahan baku, seperti minyak, garam, dan komoditas lainnya.
Karena itu, menurutnya, industri harus terus bergerak dengan memanfaatkan potensi lokal. Apalagi sektor makanan dan minuman merupakan produk yang sangat dibutuhkan masyarakat.
“Komisi VII mendorong adanya dukungan pemerintah untuk mengintegrasikan seluruh sektor terkait, misalnya garam dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Perindustrian, sehingga garam nasional dapat memenuhi kebutuhan garam industri,” kata Bambang.

