iniSO.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa dampak ganda bagi masyarakat di Trenggalek. Selain meningkatkan kualitas gizi penerima manfaat, program nasional ini juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal dengan membuka peluang pasar baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Saat ini, puluhan UMKM di Trenggalek telah terlibat dalam rantai pasok dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Mereka menyediakan berbagai kebutuhan bahan baku hingga perlengkapan operasional untuk mendukung program MBG.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskomidag) Kabupaten Trenggalek, Saniran menegaskan bahwa pemerintah daerah aktif mengawal keterlibatan UMKM agar manfaat ekonomi program ini benar-benar dirasakan masyarakat setempat.
“Kami terus memantau dan mendorong UMKM agar tetap bergandeng tangan dengan dapur MBG. Setelah kami memfasilitasi mereka melalui business matching, para pelaku usaha kini bisa berkomunikasi langsung dengan pengelola dapur untuk urusan suplai,” ujarnya.
Hingga pertengahan Maret 2026, tercatat sekitar 27 UMKM telah terkoneksi dengan dapur MBG. Namun, jumlah tersebut diperkirakan lebih banyak di lapangan karena sebagian pelaku usaha menjalin kerja sama secara mandiri.
“Data yang kami catat sekitar 27 UMKM. Namun kemungkinan jumlah di lapangan lebih banyak karena ada pelaku usaha yang langsung bekerja sama dengan pengelola dapur,” jelas Saniran.
Peran UMKM dalam program MBG sangat beragam. Tidak hanya menyediakan makanan jadi, mereka juga memasok bahan pangan mentah serta kebutuhan pendukung lainnya.
Mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, telur, makanan dan minuman, hingga produk roti sebagai menu tambahan, semuanya dipasok oleh pelaku usaha lokal. Bahkan, UMKM sektor konveksi turut ambil bagian dengan menyediakan pakaian kerja bagi petugas dapur SPPG.
Keterlibatan lintas sektor ini membuat perputaran ekonomi tetap berada di dalam wilayah Trenggalek.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui Diskomidag berperan sebagai fasilitator, meskipun program MBG dikelola oleh satuan tugas nasional. Fokus utama pemerintah daerah adalah memastikan UMKM mampu memenuhi standar dan terhubung dengan pasar.
“Kami tidak mengelola programnya secara langsung. Fokus kami membina UMKM agar produknya memenuhi standar serta menjembatani komunikasi dengan pihak dapur,” tambahnya.
Saniran berharap pengelola dapur MBG terus memprioritaskan penggunaan bahan baku dari UMKM lokal. Hal ini dinilai penting untuk memperkuat struktur ekonomi daerah sekaligus membuka lapangan kerja baru.
“Harapan kami, dapur MBG tetap mengambil bahan dari rantai pasok UMKM lokal. Dengan begitu, perputaran ekonomi di Trenggalek akan semakin kencang,” pungkasnya.

