iniSO.co – Pemberdayaan yang dilakukan Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi faktor penting di balik berkembangnya UMKM Diopeni atau Dondomane Handmade di Kota Malang. Usaha yang digagas Peni Budi Astuti ini berhasil mengangkat kain tenun lurik menjadi produk fashion modern bernilai tinggi, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi perempuan.
Melalui pendampingan Rumah BUMN BRI Malang, Diopeni tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi juga membawa misi sosial. Peni, yang juga pendiri komunitas Perempuan Mandiri Sumber Perubahan, aktif memberdayakan lansia dan ibu tunggal agar tetap produktif dari rumah.
Usaha ini bermula pada 2016 dari hobi menjahit tangan atau dondom-dondom. Dari kegiatan sederhana tersebut, Peni melihat potensi kain lurik yang selama ini dianggap tradisional untuk diolah menjadi produk kekinian. Nama Diopeni sendiri bermakna “dirawat”, sejalan dengan filosofi usaha yang dijalankannya.
Kini, Diopeni telah berkembang menjadi koperasi dengan sembilan pekerja, mayoritas perempuan lansia dan orang tua tunggal. Mereka terlibat dalam proses produksi berbagai produk fashion seperti tunik, kemeja, outer, gamis, hingga blazer.
“Perempuan sebaiknya memiliki kegiatan produktif untuk membantu ekonomi keluarga agar menjadi sosok yang kuat dan tangguh,” ujar Peni.
Keunikan produk Diopeni terletak pada desain eksklusif berbahan tenun lurik. Setiap produk dibuat dengan pola berbeda sehingga tidak ada yang benar-benar sama. Selain itu, prinsip zero waste juga diterapkan dengan memanfaatkan sisa kain menjadi produk kriya seperti tas, sandal, hingga aksesori.
Tidak hanya bergerak di sektor fesyen, usaha ini juga merambah ke pelatihan keterampilan serta kuliner melalui unit Dapur Bunda Peni.
Perkembangan pesat Diopeni tidak lepas dari pembinaan intensif BRI.
Sejak 2017, Peni aktif mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari manajemen keuangan, perencanaan bisnis, hingga pemasaran digital. Dukungan juga diberikan dalam pengurusan legalitas usaha seperti sertifikasi halal dan hak kekayaan intelektual.
Akses pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dimanfaatkan untuk memperluas usaha, termasuk membangun mini galeri di rumahnya yang kini menjadi etalase produk.
“Meskipun lokasi usaha di dalam gang, mini galeri ini meningkatkan kepercayaan konsumen. Bahkan pernah ada rombongan datang untuk melihat langsung koleksi kami,” kenang Peni.
Secara terpisah, Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyampaikan bahwa Rumah BUMN menjadi wadah kolaboratif bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing.
Menurutnya, pembinaan UMKM merupakan bagian dari komitmen BRI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif. Hingga kini, BRI telah membina puluhan Rumah BUMN dan menyelenggarakan ribuan pelatihan bagi pelaku usaha di seluruh Indonesia.
“Melalui peningkatan literasi, digitalisasi, dan akses pembiayaan, UMKM didorong menghasilkan nilai tambah. Kisah Diopeni menjadi inspirasi yang bisa direplikasi,” pungkasnya.

